Showing posts with label penyakit. Show all posts
Showing posts with label penyakit. Show all posts

Saturday, April 16, 2016

PENYAKIT PADA KALKUN

Pencegahan
1.   Vaksinasi
Vaksin untuk kalkun sama dengan vaksin untuk unggas lain. Aturan dan dosisnya bisa melihat pada kemasan. Lebih baik lagi jika kita berkonsultasi dengan yang sudah berpengalaman. vaksin yang bisa digunakan adalah Vaksin ND Hitchner B1 dan vaksin ND LASOTA yang diberikan dengan cara Suntik/air minum untuk mencegah penyakit ND.

2.      Obat Cacing
Berikan juga obat cacing yang  di ulang 2-3 bulan sekali untuk mencegah cacingan. Selain vaksin, banyak juga peternak yang lebih suka mengobati kalkunnya dengan obat-obatan herbal, dan sebagian lagi malah dengan obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia.


Pengobatan.
Pilek/hidung berlendir.
Penyakit ini secara medis dinamakan Infectious Bronchitis (IB). Ciri-cirinya a.l. hidung berlendir, sayap menggantung dan nafasnya berbau. Lama kelamaan nafsu makannya turun, bahkan jika sudah parah, kalkun harus disuapi agar tetap bisa bertahan hidup. Untuk pencegahan, lokasi kandang harus kering, tidak lembab, dan di sekitar kandang tidak terdapat selokan yang mempunyai air kotor dan tergenang. Penularan penyakit terjadi lewat gigitan nyamuk, lalat dan kontaminasi air minum. Jika terlihat tanda-tanda tersebut, kalkun sakit segera dipisahkan dan diberi obat seperti tetrachlor.

Cacar/bercak merah
Penyakit ini disebabkan oleh virus familia poxviridae dan genus Avipoxvirus. Kalkun yang terserang dipenuhi bercak-bercak merah diseluruh tubuhnya. Pengobatan dan pencegahan dengan vaksin dilakukan setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter hewan. Sebagai obat tradisional, kita bisa membuat ramuan dari bensin yang dicampur oli (baru). Campuran ini kita kuaskan pelan-pelan ke permukaan tubuh yang terkena bercak-bercak cacar. Beberapa peternak mengatakan cara tradisional ini cukup ampuh.

Lumpuh.
Lumpuh pada kalkun biasanya disebabkan karena pakan berlebih yang mengakibatkan kalkun mengalami kegemukan (obesitas). Kalkun muda yang tulangnya belum kuat tidak akan mampu menahan berat tubuhnya. Untuk itu, pemberian makanan harus terkontrol dengan baik. Untuk pencegahan, kita bisa memberikan konsentrat AD1 (untuk kekuatan tulang) pada ransum makanan kalkun muda. Kelumpuhan pada kalkun muda juga bisa diakibatkan karena konsumsi daun pepaya. Kalkun yang terserang akan mengalami lumpuh total dan jari-jarinya bengkok kedalam. Sebagai pencegahan, kalkun usia dibawah tiga bulan sebaiknya tidak kita beri daun pepaya.

Kolera.
Gejala pada kalkun yang terserang yaitu pial yang terlihat membengkak. Jika kalkun terserang kolera, bisa diobati dengan antibiotik seperti tetrasiklin atau streptomycin.

Blackhead/Histomoniasis
Kalkun yang terserang menunjukkan gejala-gejala susah makan, berat badan turun dan kotorannya berwarna kuning. Penyebab penyakit ini adalah protozoa Histomonas meleagridis. Kalkun yang terserang sebaiknya dikarantina agar tidak menular ke kalkun lain. Sebagai tindakan pengobatan, gunakan Emtryl, yang mengandung dimetridazole.

Avian Infuenza/Flu burung
Guna mencegah penularan virus flu burung, diperlukan biosecurity. Langkah ini adalah langkah yang mudah dilakukan jika kita tahu caranya. Kasus-kasus penularan virus flu burung ini pada dasarnya terjadi karena kurangnya pengetahuan peternak, kurang sosialisasi, dan ketidak disiplinan. Sebagai langkah awal, pastikan dulu bahwa kalkun yang anda beli sudah divaksin dan berasal dari peternakan yang bisa dipertanggungjawabkan dari sisi kesehatannya. Vaksin untuk H5N1 ini sebenarnya disediakan gratis oleh pemerintah. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mem-vaksin ternak anda. Langkah selanjutnya, selalu menyemprot areal kandang dan lokasi-lokasi yang menjadi akses ke kandang. Penyemprotan dilakukan dengan desinfektan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. Kemudian, setiap pintu masuk lokasi kandang harus kita beri larutan desinfektan dalam ember atau baskom. Manusia yang ingin memasuki kandang kita persilahkan untuk mencelupkan tangan dan kaki mereka dalam larutan tersebut.
Salah satu desinfektan yang cukup ampuh memberantas virus flu burung, dan beberapa penyakit lainnya, adalah Benzalkonium Chloride. Obat ini bisa dibeli di poultry shop dengan nama dagang yang bermacam-macam dan harganya terjangkau.
Herbal untuk kalkun.
Herbal sebagai tindakan pencegahan, dilakukan peternak saat musim pancaroba. Herbal ini dinilai lebih ampuh dan murah. Bahan-bahannya pun mudah diperoleh. Untuk membuat ramuan herbal ini kita siapkan saja jahe dan kencur sesuai kebutuhan. Kedua bahan ini kita cuci, kupas dan digiling halus atau diparut. Setelah campuran siap, suapkan ke kalkun muda (umur kira-kira 4 bulan) dengan dosis seperempat sendok teh. Sementara untuk kalkun kecil, ramuan tersebut kita campurkan ke dalam pakan. Saat musim penghujan, ramuan ini bisa menambah daya tahan dan mengusir berbagai penyakit.


Selain menggunakan herbal, peternak kalkun menggunakan juga obat untuk manusia seperti obat-obatan untuk flu dan masuk angin. Obat ini diberikan setengah dosis saja, Penggunaan obat manusia ini juga ada gunanya bagi kita. Jika kalkun suatu saat kita potong, maka dagingnya aman untuk dikonsumsi. Sedangkan kalkun yang mengkonsumsi obat-obatan khusus unggas, tidak boleh begitu saja dipotong dan dikonsumsi.

Friday, December 5, 2014

Pengaruh Cuaca terhadap Kesehatan Ayam Hias

Sahabat Saung Ayam Hias Bogor,
Bulan Nopember , Desember, dan Januari adalah masa-masa di mana terjadi perubahan cuaca yang ekstrim yang tentunya akan mempengaruhi kondisi kesehatan ayam-ayam kesayangan kita. Dampak yang bisa dilihat antara lain meningkatnya stress pada ayam yang menyebabkan penurunan daya tahan yang tentu saja akan berpengaruh langsung pada produktivitas telur dan daging serta kesehatan ayam.

Suhu nyaman untuk ayam adalah 25-27°C dengan kelembaban udara 60-70 %.  Bila suhu meningkat sampai 34-35°C dengan kelembaban yang rendah maka ayam akan lebih banyak minum daripada makan. Sehingga pakan yang kita berikan selalu banyak tersisa. Efek dari kurangnya konsumsi pakan dan menungkatnya konsumsi minum  adalah menurunnya produksi pada ayam dewasa, dan menurunnya tingkat pertumbuhan pada anak-anak ayam.

Dengan kelembaban yang tinggi dan meningkatnya ancaman penyakit pada musim pancaroba ini harus diantisipasi dengan cermat. Jangan lupa, bahwa lingkungan sekitar kandang juga bisa menjadi tempat bersarangnya bibit penyakit.

Beberapa langkah antisipasi yang bisa diambil diantaranya :

1.     Untuk pedagang dengan mengurangi stok untuk penjualan, lebih mengutamakan pesanan saja.
2.     Mengurangi kepadatan kandang, sehingga mampu memberikan rasa nyaman pada ayam.
3.     Menambah jumlah tempat pakan dan minum, sehingga untuk makan dan minum ayam tidak harus berebut.
4.     Dengan kandang yang semakin luas juga ayam akan dapat mengeluarkan panas dengan baik dan dapat mengurasi resiko stress.
5.     Pemberian vitamin dan elektrolit. Pemberian vitamin seperti C dan E dapat membantu mengurangi stress, sedangkan pemberian elektrolit akan membantu keseimbangan elektrolit pada ayam pada kondisi apapun sehingga dapat meningkatkan daya tahan dan stamina tubuh. Saat ini Multivitamin dan elektrolit untuk ayam, dengan berbagai merk, mudah didapat di poultry shop.
6.     Perhatikan kualitas pakan. Untuk mempertahankan stamina menghadapi stress cuaca, salahsatunya adalah mengupayakan supaya ayam tetap makan dengan baik dan cukup.
7.         Perhatikan kebersihan (sanitasi) dan peredaran udara kandang dan sekitarnya. Untuk sanitasi kandang semprotkan desinfektan untuk membunuh bibit penyakit. Disamping itu sirkulasi udara dalam kandang harus baik, yaitu udara dari dalam kandang dapat mengalirdengan baik ke luar kandang pada siang hari, dan hindari udara langsung dan keras dari luar, apalagi di malam hari. Upayakan udara sekitar kandang tetap hangat dan nyaman pada malam hari.

Demikian beberapa tips yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat. Ingat sahabat, bukan hanya kita yang menginginkan suasana yang nyaman dan makanan yang “enak”, ayam-ayam kesayangan kita pun perlu diperhatikan, terlebih pada cuaca di musim pancaroba seperti ini.


Wednesday, May 21, 2014

Amankan Peternakan Dari Penyakit Ternak Dengan Biosekuriti



Sahabat Saung Ayam Hias Bogor, pada kesempatan ini saya kutipkan selengkapnya satu tulisan tentang Biosekuriti. Tulisan ini dimaksudkan untuk sekedar memberi gambaran betapa pencegahan penyakit adalah lebih utama disbanding dengan pengobatan.

Walaupun tulisan ini lebih ditujukan kepada Usaha Peternakan dengan skala besar, saya kira kita bisa mengambil manfaat pengetahuan dari tulisan ini untuk bisa kita “terapkan” seperlunya pada kandang kita masing-masing.

Untuk lebih jelasnya silahkan simak tulisan di bawah ini :

Biosekuriti adalah suatu konsep yang merupakan bagian integral dari suksesnya sistem produksi peternakan unggas, khususnya petelur untuk mengurangi resiko dan kerugian dari masuknya penyakit infeksius terhadap unggas maupun manusia (Payne, 2000). Biosekuriti merupakan praktek manajemen dengan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme seperti virus Avian Influenza dalam menyerang hewan dan manusia.Biosekuriti terdiri dari dua elemen penting yaitu bio-kontaimen dan bio-ekslusi. Bio-kontaimen adalah pencegahan terhadap datangnya virus terinfeksi, sedangkan bio-ekslusi adalah menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (WHO, 2008).

Pengertian lainnya, biosekuriti adalah suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun sub klinis, termasuk penyakit-penyakit zoonosis. Biosekuriti merupakan sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan dan bagian dari kesejahteraan hewan. Menurut Shulaw dan Bowman (2001), biosekuriti adalah semua aspek manajemen yang diberlakukan untuk mencegah organism penyebab penyakit pada unggas maupun penyakit zoonosis yang masuk dari luar peternakan. Menurut Dirjen Peternakan (2007), biosekuriti adalah suatu tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/ penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti pada seluruh sektor peternakan baik di industri perunggasan maupun peternakan lainnya akan mengurangi resiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang mengancam sektor tersebut. Biosekuriti sangat penting untuk mengendalikan dan mencegah berbagai penyakit yang mematikan. Biosekuriti dapat digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang akan mencegah atau membatasi hidup dan penyabaran agen penyakit berbahaya di berbagai tempat seperti peternakan, tempat penampungan hewan dan rumah potong hewan.

Program biosekuriti secara sederhana dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Area peternakan diberi pagar dengan satu pintu masuk untuk memudahkan kontrol lalu lintas
2. Rumah tempat tinggal, kandang unggas lainnya serta kandang hewan lain ditempatkan pada lokasi terpisah
3. Pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material (hewan/unggas, produk unggas, pakan,
    kotoran unggas, alas kandang, sekam, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit.
4. Pembatasan secara ketat keluar masuk orang/ tamu/pekerja dan kendaraan dari area peternakan    maupun yang menuju area peternakan.
 
5. Setiap orang yang masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan sabun atau desinfektan
6. Mencegah keluar masuknya tikus, serangga, burung liar atau unggas lain yang dapat berperan    sebagai vector penyakit ke lokasi peternakan
7. Unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya
8. Tidak membawa unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan.
9. Unggas yang mati harus dikubur atau dibakar
10. Kotoran unggas harus diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area peternakan
 
11. Air hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar kandang secara terpisah melalui saluran limbah      ke tempat penampungan limbah (septic tank) sehingga tidak tergenang disekitar kandang atau      jalan masuk kandang

Menurut Zainuddin dan Wibawan (2007),tujuan utama dari penerapan biosekuriti adalah sebagai berikut :
1. Meminimalkan keberadaan penyebab penyakit
2. Meminimalkan kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang
3. Membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin.

Penerapan biosekuriti pada peternakan dibagi menjadi 3 yaitu
1. Isolasi
Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharan hewan di dalam lingkungan yang terkendali. Pagar kandang akan menjaga dan melindungi unggas serta akan mencegah masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi ini juga untuk memisahkan unggas berdasarkan kelompok umur, karena unggas muda lebih rentan terhadap serangan penyakit dibandingkan yang tua.

2. Pengedalian lalu lintas
Pengendalian ini dilakukan terhadap lalu lintas menuju area peternakan dan lalu lintas di dalam area peternakan. Pengendalian lalu lintas diterapkan pada manusia, peralatan, barang, pakan dan unggas. Tindakan pengendalian berupa penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kandaraan, penyemprotan desinfektan terhadap kandang dan peralatannya, sopir, penjual serta petugas lain dengan mengganti pakaian dengan pakaian khusus. 

3. Sanitasi dan desinfeksi
Sanitasi adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan berkembang biaknya mikroba pembusuk dan pathogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan asal hewan dan membahayakan kesehatan manusia (Marriott, 1999). Sanitasi berkaitan erat dengan desinfeksi. Tindakan sanitasi berupa desinfeksi kandang, bahan, manusia dan peralatan yang masuk ke area peternakan serta kebersihan pegawai di peternakan. Sanitasi meliputi pembersihan dan desinfeksi secara teratur terhadap kandang, bahan- bahan dan peralatan yang masuk ke area peternakan. Pengertian desinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik dan kimia, antara lain alkoho, NaOH, Fenol, dan lain- lain. Sanitasi peternakan meliputi kebersihan kandang, sampah, feses dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi ternak dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih. Jika menggunakan air tanah atau dari sumber lainnya, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih. 

Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran unggas) dilakukan pada periode tertentu secara teratur karena dapat mengundang lalat atau serangga lain dan tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di area peternakan. .
  
ZONA BIOSECURITY
Zona Biosekuriti dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Zona I : Zona bebas (di luar areal peternakan pembibitan)
Zona bebas (di luar areal peternakan pembibitan) merupakan zona atau daerah yang berada di luar lokasi peternakan pembibitan. Daerah ini sangat sulit untuk dikendalikan dari tindakan Biosekuriti karena menyangkut hubungan dengan pihak diluar peternakan.

2. Zona II : Zona bebas terbatas
Zona bebas terbatas adalah daerah di dalam peternakan dimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih banyak bersifat administratif. Tamu yang mempunyai kepentingan hanya boleh diterima sampai pada zona tersebut. Kegiatan bongkar muat pakan, peralatan, penjemuran sekam dan pengumpulan sak sering dilakukan di area ini.

3. Zona III : Zona terlarang ( Kandang )
Zona terlarang adalah daerah di dalam peternakan pembibitan dimana kegiatan yang dilaksanakan yang dilakukan meliputi semua kegiatan tekhnis produksi dan pemeliharaan itik. Semua orang dilarang masuk daerah ini, kecuali karyawan yang mempunyai program kerja teknis produksi saja.

Demikian, semoga member manfaat kepada kita semua. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya ….
Salam dari Kota Bogor …
 Sumber :

 http://bptuhpt.blogspot.com/2014/01/amankan-peternakan-dari-penyakit-ternak.html

Thursday, November 14, 2013

kemalasan yang berakibat fatal

Akhir Oktober dan awal Nopember 2013 adalah saat pergantian musim dari kemarau ke penghujan .... saya tahu itu, dan pengalaman tahun lalu mengajarkan bahwa akan banyak ayam yang mati kena penyakit. Tapi kenapa saya membiarkannya ? satu per satu ayam mulai sakit, dan saya membiarkannya. Kemudian satu persatu ayam di kandang mulai mati, saya masih membiarkannya. Sampai kemudian setiap hari ada saja ayam yang mati, bukan satu tapi bisa dua atau tiga ekor sehari yang mati ... saya masih berdiam... kenapa???? 2 ekor jantan dan 3 ekor betina ayam mungil mati, 10 ekor anakan Italy umur 1 bulan dan 8 ekor anakan kanada umur 1 bulan menyusul sampai habis, berpindah ke kandang sebelahnya indukan kapas, indukan italy dan kanada. 

Pengobatan saya lakukan dengan memberi ayam-ayam yang sehat dan yang sakit tablet Trimezyn. Saya coba juga campuran jahe+kencur+bawang putih yang digerus halus, kemudian saya berikan pada ayam yang sakit. Tapi tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Penyakit, pelan tapi pasti, terus merambat dari satu kandang ke kandang yang lain. Koleksi ayam terus berkurang, sampai satu ketika, seorang teman mengingatkan via SMS, "Semprot kandangnya pake Antisep mas, ...". Terima kasih mas Warri Edi Jambul . 

Hari ini, beberapa hari setelah saran itu saya terima, baru saya beranjak membeli obat, bukan Antisep yang saya beli tapi Rodulan. Pulang dari pasar, langsung saya semprot semua kandang dengan obat tadi, untuk minumnya saya campur "therapy", bagaimana hasilnya? Mudah-mudahan bisa mengurangi apalagi bisa menghentikan serangan penyakit di kandang saya. Kita lihat perkambangannya besok ...

Itulah, pengalaman yang baru saja saya alami... kemalasan dan ketidakpedulian saya terhadap situasi dan kondisi ayam-ayam hias di kandang harus dibayar "cukup mahal" . Semoga tindakan yang saya ambil sudah tepat, atau kalau ada saran dari teman yang lain silahkan  memberi komentar  terhadap tulisan ini. Komentar dan sarannya saya tunggu ...

Saturday, July 20, 2013

Penyebab kematian dini pada ayam


Sahabat saung ayam hias Bogor … hati siapa yang tak akan sedih kalau melihat anak-anak ayam kesayangan kita kelihatan lesu, tidak bergairah, kemudian satu persatu mati pada usia dini …
Di bawah ini kita coba mengupas apa saja penyebabnya sehingga hal itu terjadi.
Kematian Dini pada ayam biasanya terjadi pada umur 1-12 hari,
Penyebabnya biasanya karena kepanasan, kelaparan, kedinginan, kehilangan cairan tubuh, keracunan gas amoniak yang berasal dari kotorannya, keracunan gas asam arang, terkena penyakit menular atau karena kecelakaan.
Anak ayam yang kelaparan berat badannya terus menurun, menjadi kurus dan mati,pada minggu pertama. Gejalanya, anak ayam tampak lesu, bulu badan berdiri kaku, jalannya lemah, menyendiri. Anak ayam itu juga segan makan karena tak mampu bersaing dengan yang lainnya, sehingga badannya bertambah lemahdan gampang terkena penyakit.
Anak ayam yang kedinginan tampak bergerombol, kondisi ini bisa merupakan suatu gejala penyakit. Semua anak ayam tampak lesu dan sayapnya terkulai. Kondisi kedinginan, selain kurangnya suhu, juga bisa karena penyakit seperti tetelo.
Sebaliknya, jika kepanasan anak ayam akan berpencar. Jika terlalu lama kepanasan anak ayam akan terkena dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh, sehingga lemas dan mati, Gejala anak ayam mengalami dehidrasi adalah tampak lesu, matanya redup, sukar mengeluarkan tinja, dan kurus. Selain kepanasan, penyebab dehidrasi juga adalah akibat kekurangan minum karena tempat minum tidak terjangkau olehnya. Dehidrasi juga bisa disebabkan penyakit mencret (diare).
Anak ayam yang keracunan amoniak biasanya mengosok-gosokkan mukanya ke bagian kandang, matanya berair, terdapat nanah pada kornea mata, selaput lendir mata rusak, pernapasan terganggu, badan menjadi kurus, karena tidak ada nafsu makan,. Amoniak muncul karena kotoran ayam jarang dibersihkan. Sirkulasi udara yang kurang baik akan menyebabkan terjadinya penumpukan gas beracun tersebut di dalam kandang. Selain keracunan amoniak, anak ayam bisa keracunan gas asam arang yang timbul karena ventilasi yang jelek sementara kandang terlalu padat. Anak ayam yang terkena keracunan gas asam arang akan nampak terhuyung-huyung, kejang-kejang lalu mati,. Penyakit yang bisa menimbulkan kematian dini pada anak ayam adalah tetelo, pilek coryza, diare, cacar, cacingan, kekurangan vitamin B1, dan D. Untuk mencegah gangguan serta timbulnya penyakit, kandang harus dibersihkan secara rutin dan program imunisasi dilakukan pada anak ayam sejak berumur 4 hari.
Setelah berumur 2 bulan, anak ayam ini disebut anak ayam lepas sapih, pada umur ini anak ayam sudah tidak membutuhkan induk alam atau induk buatan. Kondisi tubuhnya relatif sudah lebih kuat dan sudah bisa dilepas, sebaiknya dilakukan vaksinasi ND kedua kalinya agar tubuhnya memiliki antibodi melawan tetelo. Dalam pengumbaran di kandang ren, sebaiknya anak ayam diberi pakan 2-3 kali sehari. Pertama, pada pagi hari ketika keluar kandang, Kedua, pada siang hari saat di umbaran, Ketiga, satu jam sebelum masuk kandang untuk tidur.  Di kandang umbaran harus tersedia air yang tak terbatas atau mencukupi. Selain itu disediakan grit berupa kulit kerang atau pasir yang dapat membantu ayam mencernakan makanannya.
Demikian sekedar info yang saya coba bagikan kepada sahabat sekalian, semoga bermanfaat.
Sumber : http://arnoldfarm.blogspot.com/2012/12/penyebab-kematian-dini-pada-ayam.html

Monday, June 17, 2013

Chronic Respiratory Disease (CRD) atau ngorok atau Air Sac


Kalau anda mendapati ayam anda sering menggoyang-goyangkan kepalanya, ayam anda bukan sedang menikmati music yang anda mainkan. Apalagi kalau di sekitar kandang tidak terdengar bunyi music apapun. Bisa jadi ayam anda terserang penyakit  ngorok alias sinusitis alias CRD, Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum ini biasanya menyerang ayam pada usia 4-9 minggu. Penuluaran terjadi melalui kontak langsung, peralatan kandang, tempat makan dan minum, manusia, telur tetas atau DOC yang terinfeksi.
Gejalanya antara lain : batuk-batuk, ngorok,  keluar cairan dari lubang hidung, nafsu makan turun, produksi telur turun, dan ayam suka menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gejala lainnya, kadang terlihat : ayam kehilangan napsu makan secara tiba-tiba dan terlihat lesu, warna bulu pucat, kusam dan kadang diikuti dengan terjadinya perlengketan terutama di sekitar anus, terjadi inkoordinasi saraf sehingga ayam kelihatan limbung, dan kotoran ayam cair dan berwarna putih.
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi kandang.
Pengobatan
 CRD, saat ini sudah ada merk-merk obat untuk mengobati penyakit CRD, bisa dibeli di poultry shop yang menyediakan obat-obatan untuk ayam. Perhatikan cara penggunaan dan dosisnya.

Demikian semoga bermanfaat ……

Berak Kapur atau Pullorum


Dikatakan Berak kapur, karena salah satu gejala dari penyakit ini adalah pada kotoran ayam yang encer tercampur butiran-butiran putih seperti kapur. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum ini sering ditemukan pada anak ayam umur 1-10 hari dengan gejala yang timbul antara lain :
- napsu makan menurun
- kotoran encer dan bercampur butiran-butiran putih seperti kapur
- bulu dubur melekat satu dengan yang lain
- jengger berwarna keabuan
- badan anak ayam menjadi menunduk
- sayap terkulai
- mata menutup
Dalam kelompok anak ayam yang terkena berak kapur, ayam kelihatan lemah dan kedinginan, sehingga mereka lebih suka bergerombol mencari tempat yang hangat.
Gejala penyakit ini pada ayam dewasa tidak nyata benar. Penyakit ini bisa terindikasi antara lain dengan penurunan produktivitas telur, ayam kelihatan depresi, pucat dan kotoran yang encer dan berwarna kuning.
Untuk pencegahan
 perhatikan sanitasi mulai dari mesin penetasan hingga sanitasi kandang dengan melakukan desinfeksi kandang.  Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.
Pengobatan
 Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas di dada ayam. Penulis lain menyebutkan pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan preparat sulfonamide.

Demikian semoga bermanfaat …

Penyakit Snot / Coryza


 Penyakit yang  disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum ini biasanya menyerang ayam akibat adanya perubahan musim. Dan biasanya penyakit yang  menyerang hampir semua umur ayam ini  banyak ditemukan di daerah tropis. Ayam yang mati dalam serangan penyakit ini bisa mencapai 30% sedang ayam yang terserang bisa mencapai hingga 80%.
Penyakit ini bersifat kronis, serangannya bisa berlangsung hingga 1-3 bulan. Konon yang paling rentan terserang adalah ayam betina berumur 18-23 minggu, atau umur 4 hingga 6 bulan. Namun berdasar pengalaman, angka kematian yang tinggi  justru terjadi pada ayam di bawah 16 minggu alias di bawah umur 4 bulan. Sedangkan jika ayam anda sedang bertelur dan terserang penyakit ini, biasanya masih bisa disembuhkan tetapi produktivitas telur menurun hingga 25%.
Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung, melalui udara, debu, pakan, air minum, petugas kandang dan bisa juga melalui peralatan yang digunakan.
Berdasar referensi yang ada, gejala penyakit ini antara lain,
- ayam terlihat mengantuk, sayapnya turun
- keluar lendir yang kental berwarna kekuningan dan berbau khas, dari hidung.
- muka dan mata bengkak akibat pembengkakan sinus infra orbital
- terdapat kerak di hidung
- napsu makan menurun sehingga tembolok kosong jika diraba
- ayam mengorok dan sukar bernapas
- pertumbuhan menjadi lambat.
Untuk pengobatan, anda bisa mencari informasi di poultry shop, banyak obat dengan berbagai merek yang  bisa digunakan. Baca dengan cermat aturan pemakaiannya.
Ada beberapa pilihan untuk pengobatan tradisional antara lain :
Dengan memberikan susu bubuk yang dicampur dengan air dan dibentuk seperti kelereng, besarnya disesuaikan dengan bukaan mulut ayam dan diberikan 3 kali sehari. Atau …
Dengan memberikan perasan tumbukan jahe, kunir, kencur dan lempuyang. Air perasan ini dicampurkan pada air minum. Sedangkan ampasnya dicampurkan pada sedikit pakan. Ramuan ini berkhasiat untuk menghangatkan tubuh ayam, juga untuk menambah napsu makan ayam.
Karena penyebarannya yang sangat cepat dan luas, maka ayam yang terkena Snot harus sesegera mungkin dipisahkan dari kelompoknya.
Untuk upaya pencegahan,
 yang utama adalah menjaga kebersihan kandang dan lingkungan dengan baik. Kandang sebaiknya terkena sinar matahari langsung sehingga mengurangi kelembaban. Kandang yang lembab dan basah memudahkan timbulnya penyakit ini.
Demikian semoga bermanfaat ….

Penyakit Tetelo Pada Ayam


Penyakit tetelo ini banyak namanya,  ada yang menyebutnya penyakit pes, pileren, cekak atau sampar, penyakit  ini cukup mematikan. Kalau dia menyerang, maka satu kandang bisa habis dibunuhnya jika tidak segera ditangani. Penyakit ini dalam serangannya tidak mengenal umur, dari ayam kecil sampai dewasa bisa menjadai sasarannya.
Konon, penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1926 oleh orang inggris yang bernama Doyle, dan katanya pula, pada tahun yang sama penyakit tetelo juga ditemukan di bogor oleh Kraneveled. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa penyakit tetelo ini disebabkan oleh virus Paramyxo dengan penyebaran melalui udara.

Serangan penyakit ini pada ayam, awalnya ayam terlihat lesu, batuk-batuk, sulit bernafas, kemudian sayapnya mulai terkulai ke bawah. Pada kondisi yang benar-benar parah, leher ayam akan terpelintir dengan kepala menghadap ke atas, Pada tahap ini kotoran ayam terlihat encer dan berwarna hijau, terkadang juga bercampur darah.

Untuk saat ini penyembuhan penyakit yang mematikan ini pada ayam belum bisa diobati secara pasti, namun untuk mencegahnya masih bisa diupayakan dengan vaksinasi. Perhatikan jenis vaksin dan dosisnya, pastikan dengan membaca secara cermat aturan pakainya. Atau jangan ragu bertanya kep-ada penjualnya, supaya tidak salah beli.
Selain dengan menggunakan vaksin, kabarnya pencegahan maupun pengobatan tetelo bisa juga  menggunakan bawang merah dan daun pepaya. Sebenarnya daun pepaya berkhasiat untuk membantu metabolisme, sehingga bisa meningkatkan kekebalan pada ayam. Hancurkan daun pepaya atau bisa juga diblender, dicampur dengan sedikit air, dan air perasan daun pepaya diminumkan ke ayam satu sampai tiga kali sehari sampai ayam benar-benar sembuh.

Selamat mencoba …..

Wednesday, May 29, 2013

Bagaimakah ayam kita mencerna makanannya?


Sahabat Saung Ayam Hias Bogor,
Pernahkah kita membayangkan bagaimana makanan yang kita berikan bisa dicerna oleh alat pencernaan ayam, apakah jenis makanan yang kita berikan cocok dengan alat pencernaan ayam kita, atau bisa jadi selama ini kita hanya buang-buang uang untuk makanan yang kita beli dan tidak murah pula harganya, padahal ayam kita tidak bisa mencernanya dengan baik karena makanan yang kita berikan sebenarnya tidak cocok dengan model alat pencernaan ayam kita.
Setiap jenis hewan memiliki model alat pencernaan yang berbeda.Katakanlah untuk jenis ruminansia seperti kambing, sapi, kerbau, dan sejenisnya, alat pencernaan mereka lebih rumit. Sedang untuk jenis unggas alat pencernaannya relative lebih sederhana.
Pada dasarnya proses pencernaan adalah proses penguraian bahan makanan menjadi zat-zat makanan dalam saluran pencernaan agar dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Didalamnya terjadi proses yang bersifat mekanis dan kimiawi, dan berjalannya proses ini sangat dipengaruhi oleh banyak factor.
Kalau kita lihat cara unggas mengambil makanannya, mereka mengambil makanan dengan paruhnya dan menelannya begitu saja, tidak ada proses penghancuran terlebih dahulu. Makanan tersebut kemudian disimpan di dalam tembolok untuk dilunakkan. Proses pelunakan ini dibantu oleh getah pencernaan yang ada di proventrikulus (saluran sebelum ampela).
Penggilingan baru dilakukan di dalam ampela, tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh ampela, jadi proses yang berlangsung di sini hanya proses mekanis untuk memperkecil partikel-partikel makanan.
Selanjutnya makanan bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Di sini pankreas mengeluarkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Guna enzim-enzim tersebut adalah untuk menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Turut berperan pula dalam proses ini empedu hati yang mengandung amilase. Artinya di sini terjadi proses kimiawi. Dimana bahan makan dirubah menjadi zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh.
Prosesnya belum selesai, karena di usus halus bahan makanan masih dirposes lagi secara kimiawi dengan bantuan getah usus halus. Getah usus halus yang mengandung erepsin dan beberapa enzim kerjanya adalah memecah gula, menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino. Pemecahan gula diperlukan agar gula yang berada dalam bahan makanan (berupa disakharida)dirubah menjadi gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diserap oleh tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.
Pernah lihat ayam kita (maaf) kencing? Nggak akan … karena unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine (air kencing) pada unggas mengalir kedalam kloaka (dubur) dan dikeluarkan bersama-sama kotoran (feses).
Saluran pencernaan yang pendek pada unggas menyebabkan proses pencernaannya berlangsung relative cepat, hanya berlangsung lebih kurang 4 jam saja.

Bagaimana ayam kita mencerna karbohidrat
Saluran pencernaan yang demikian pendek, menyebabkan unggas mendapatkan kesulitan untuk mencerna serat kasar karena perjalanan makanan yang begitu cepatnya maka jasad renik di dalam usus ayam mempunyai waktu sedikit untuk mengerjakan karbohidrat yang kompleks. Artinya pekerjaan mereka tidak bisa diselesaikan, karena waktunya yang pendek. Artinya lagi, kebanyakan serat kasar akan terbuang begitu saja tanpa termanfaatkan oleh tubuh unggas. Itulah sebabnya ayam tidak perlu banyak makan sayuran, toh tidak akan sempat dicerna. Yang diperlukan pada karbohidrat untuk unggas adalah pati yang kemudian akan dipecah menjadi yang selanjutnya akan dipecah lagi menjadi gula-gula sederhana, terutama glukosa. Gula-gula sederhana adalah hasil akhir dari pencernaan karbohidrat. Pati dan gula mudah dicerna oleh unggas sedangkan pentosan dan serat kasar sulit dicerna.

Bagaimana ayam kita mencerna Lemak
Pada dasarnya, lemak masih bisa dicerna dengan baik  oleh unggas, namun jumlah yang diperlukan tidak terlalu banyak. Kalau lemak berkebihan maka akan disimpan sebagai cadangan. Kalau itun terjadi artinya ayam-ayam kita menjadi kegemukan. Salah satu efeknya nanti produksi telurnya akan berkurang.

Bagaimana ayam kita mencerna Protein
Protein yang ada dala kandungan pakan akan dipecah ke dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu menjadi asam-asam amino. Zat-zat inilah yang kemudian digunakan ayam kita untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan pada tubuhnya.

Bagaimana ayam kita mencerna Zat-zat Mineral dan Vitamin
Zat-zat mineral dalam saluran pencernaan tidak perlu dicerna lagi melainkan keduanya dilarutkan, yaitu mineral dan vitamin ini berubah dari bentuk pada ke bentuk cair. Prose situ terjadi di dalam ampela. Kulit kerang dan grit misalnya dilarutkan di bagian tersebut.


Demikian yang bisa saya sajikan untuk saat ini, semga bermanfaat …

Monday, May 20, 2013

Mencegah lebih baik daripada mengobati



Kalau kita mendapati ayam kesayangan kita sakit, biasanya kita langsung berfikir bagaimana mengobatinya dan apa obatnya. Namun sebelum kita memberi obat kepada ayam kesayangan kita, perlu terlebih dahulu kita ketahui apa penyebab utama sakitnya ayam kesayangan kita.
Pengobatan adalah jalan kedua dalam menyelesaikan masalah penyakit pada ternak kita, karena jalan yang pertama dan utama adalah pencegahan. Upaya apakah yang bisa kita lakukan untuk mencegah supaya ayam kita tidak sakit? Itu yang harus menjadi perhatian pertama.

Hal-Hal yang Perlu diperhatikan

1.  Kandang dan lingkungan sekitarnya
·         Kandang yang terlalu sempit, kurang ventilasi, atau malah terlalu terbuka, membuat ayam kita tidak nyaman berada di dalamnya.
·         Suhu kandang yang terlalu dingin, atau terlalu panas, juga membuat ayam kita tidak nyaman.
·         Kandang yang kotor, kurang atau malah tidak terawat, juga bisa menjadi penyebab ayam kita sakit.
·         lingkungan yang bising, kotor, dan bau selain mengganggu pada kenyamanan ayam, juga mengganggu kita.

2.  Pakan dan air minum
·         Sepertihalnya kita, ayam pun tidak mau makan makanan yang sudah rusak, basi, dsb. namun karena terpaksa, hanya itu yang kita sajikan, ayam pun makan juga. akibatnya ayam kita jadi sakit. Maka, Hidangkan makanan yang masih segar dan jangan lupa, dalam jumlah yang cukup. karena sisa makanan yang kemudian membusuk bisa menjadi penyebab sakitnya ayam kita.
·         Air minum yang berhari-hari tidak diganti, juga bisa menjadi penyebab ayam kita sakit.
·         Maka bersihkan tempat makan dan tempatg minum ayam setiap hari. Ganti air minumnya setiap hari dengan air yang baru.

3.  Cuaca
·         Pergantian cuaca yang ekstrim bisa mempengaruhi kesehatan ayam kita.
·         Perhatikan letak kandang jangan sampai mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan disekitarnya. Letakkan kandang pada tempat yang agak terlindung, sehingga lebih aman dari p0engaruh perubahan cuaca disekitarnya.

Jika kita merasa hal itu sudah kita laksanakan dengan benar, cek setiap saat apakah ayam-ayam kita sudah cukup nyaman berada di kandangnya, apakah makanan yang kita berikan dimakan habis. Kalau masih tersisa banyak harus dicari tahu penyebabnya. SZituasi dan kondisi tidak selalu sama, jadi diperlukan pengawasan yang terus menerus.
Demikian, yang bisa saya berikan untuk saat ini. Semoga bermanfaat.